MengKonfigurasi ROUTING STATIC

MengKonfigurasi ROUTING STATIC

  • Mengkonfigurasikan Routing Static untuk beberapa jaringan
  • Troubleshoot routing di jaringan testing dengan packet tracert.

Memulai pekerjaan:

  • Siapkan 2 Unit PC sebagai work station
  • 4 Unit Router
  • Skema Jaringan dibuat dalam paket tracert.

Gambar Skema jaringan praktikum routing static.

  1. Konfigurasi IP pada Host A (10.1.4.2/24) dan Host B (10.1.9.2/24)

Melihat konfigurasi pada Host A

C:\>ipconfig

Maka dari perintah tersebut akan menampilkan output sbb:

IP Address………………….: 10.1.4.2

Subnet Mask…………………: 255.255.255.0

Default Gateway……………..: 10.1.4.1

IP Address adalah alamat static dari PC sebagai alat untuk berkomunikasi dengan PC B atau PC yang lainnya yang terkoneksi dengan jaringan

Dimana pada contoh kasus ini yang kita gunakan adalah pada Host A dengan alamat 10.1.4.2 disini diketahui bahwa ip yang di isi adalah klas A

Bit pertama IP address kelas A adalah 0, dengan panjang net ID 8 bit dan panjnag host ID 24 bit. Jadi byte pertama IP address kelas A mempunyai range dari 0-127. Jadi pada kelas A terdapat 127 network dengan tiap network dapat menampung sekitar 16 juta host (255×255x255). IP address kelas A diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar.

Dengan subnet mask : 255.0.0.0 jika pada sistem operasi windows akan secara otomatis menghitung sendiri, akan tetapi jika pada sistem operasi Linux maka kita harus menghitung terlebih dahulu untuk mengisi dari subnet mask yang akan kita gunakan sesuai dengan pemberian klas IP yang kita isi.

Sedangkan Default Gateway adalah diberikan sebagai jalur untuk mencapai network atatau sebagai keluar masuk data melalui jaringan.

Melihat Configurasi pada HOST B

PC>ipconfig

IP Address………………….: 10.1.9.2

Subnet Mask…………………: 255.255.255.0

Default Gateway……………..: 10.1.9.1

2. Mengkonfigurasi default gateway Host A ke 10.1.4.1 dan Host B ke 10.1.9.1

Set default gateway Host A ke 10.1.5.1 dan Host B ke 10.1.9.1

3.  Cek koneksitas dari Host A ke Router A, Router B, Router C, Router D dan Host B

C:\> ping [ip_tujuan]

Disini saya akan melakukan pengetesan dari [Host A] ke [Host B]

Atau sebaliknya dari [Host B] ke [Host A]

PC>ping 10.1.4.2

Output dari perintah diatas akan menghasilkan Requer time out

Maksudnya adalah koneksi dari HOST A ke HOST B belum dapat terkoneksi

Ini disebabkan hubungan antara Host A ke router A,B,C,D dan Host B belum disetting secara keseluruhan atau belum dapat saling terhubung.

4. Mengconfigurasi Router A


Router>

Router>en

Router#conf t

Router(config)#int fa0/0

Router(config-if)#ip address 10.1.4.1 255.255.255.0

Router(config-if)#no shutdown

Router(config-if)#exit

Router(config)#int fa0/1

Router(config-if)#ip address 10.1.5.1 255.255.255.0

Router(config-if)#no shutdown

Router(config-if)#exit

Router(config)#exit

%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console

Router#sh ip int brief

Interface              IP-Address      OK? Method Status                Protocol

FastEthernet0/0        10.1.4.1        YES manual up                    up

FastEthernet0/1        10.1.5.1        YES manual up                    up

Vlan1                  unassigned      YES manual administratively down down

Cek table routing awal:

Router#show ip route:

Gambar tampilan perintah show ip route.

Gateway of last resort is not set

10.0.0.0/24 is subnetted, 2 subnets

C       10.1.4.0 is directly connected, FastEthernet0/0

C       10.1.5.0 is directly connected, FastEthernet0/1

Dari keterangan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Routing dari Router A tersebut belum di set ker router –router yang lain sehingga jika kita melakukan pengiriman data maka tidak akan terdeteksi oleh router yang lain.

5. Konfigurasikan router B, Router C, dan Router D

Lakukan seperti langkah konfigurasi pada Router A sebelumnya (Perhatikan jenis Port Ethernet atau Fast Eternet yang digunakan). Port Ethernet 0/0 dapat disingkat eth 0/0, fast Ethernet 0/0 dapat disingkat menjadi fa0/0

Setelah kita memberikan IP Address ke semua Router, maka kita harus mengkonfigurasi dari masing –masing router tersebut agar dapat saling terkoneksi.

a. Konfigurasikan Router A agar dapat menjangkau 10.1.6.0 , 10.1.7.0, 10.1.8.0, 10.1.9.0 melalui 10.1.5.2 dengan router static

Router>

Router>en

Router#

Router#conf t

Router(config)#

Router(config)#ip route 10.1.6.0 255.255.255.0 10.1.5.2

Router(config)#ip route 10.1.7.0 255.255.255.0 10.1.5.2

Router(config)#ip route 10.1.8.0 255.255.255.0 10.1.5.2

Router(config)#ip route 10.1.9.0 255.255.255.0 10.1.5.2

b. Konfigurasikan router B agar dapat menjangkau 10.1.4.0, melalui 10.1.5.1 dan menjangkau 10.1.8.0, melalui 10.1.7.2, serta menjangkau 10.1.9.0, melalui 10.1.6.2 (seperti langkah –langkah yang anda lakukan pada router A)..

c. Konfigurasikan routing static pada router C dan router D dapat anda lakukan dengan memperhatikan topologi dan mengikuti langkah –langkah seperti Router A dan Router B.

d. Cek tabel routing setelah tabel routing dikonfigurasikan (pada Router B,C,dan D).

Router#show ip route

Gambar ip routing pada Router B

Dari gambar di atas kita dapat menyimpulkan bahwa dari router B tersebut dapat terkoneksi atau dapat menjangkau ke 10.1.4.0 melalui jalur 10.1.5.1 dan seterusnya.

Begitu juga dengan router C dan D.

Gambar ip routing pada Router C.

Gambar ip routing pada Router D.

6. Cek Koneksitas dari Host A ke Router A,Router B,Router C, dan Host B

a. Koneksitas dari Host A ke Router A

Gambar Koneksi dari Host A ke Router A .

b. Koneksitas dari Host A ke Router B

Gambar Koneksi dari Host A Ke Router B

c. Koneksitas dari Host A ke Router C

Gambar Koneski dari Host A ke Router C

d. Koneksitas dari Host A ke Router D

Gambar Koneksi dari Host A ke Router D

e. Koneksitas dari Host A ke Host B

Gambar Koneksi dari Host A ke Host B

7. Lakukan analisa Rute paket dari Host A ke Host B

C:\> tracert [host B]

Gambar Paket Tracert dari Host A ke Host B

8. Lakukan analisa Rute paket dari Host A ke Host B

C:\> tracert [host A]

Gambar paket Tracert dari Host B ke Host A

  1. Kesimpulan

Dari hasil latihan tersebut dapat disimpulkan bahwa ada beberapa tracert yang koneksinya masih request time out, ini menunjukan masih adanya Lost Data pada saat saat tertentu, ini mungkin terjadi kesalahan pada seting routing atau pemberian IP Address. Walaupun pada saat kita ping tidak dari Host A ke Host B tidak menunjukan terjadinya RTO, tetapi sebetulnya koneksi tersebut masih kurang baik.

Dan pada hasil tracert tersebut IP Address yang dimiliki fa0/0/0 tidak menunjukan adanya aktifitas pengiriman data.

Komentar bertahan »

Installasi YM

Blog bagian ini saya tulis di peruntukan bagi yang masih awam banget y….

kalo yang uda tau abaikan saja ok.

saya tulis ttp aja y… alias langsung ke intinya…

1. pertama kalo belum punya installernya download dulu file installernya dari internet. atau tanya om google namanya free download YM offline supaya installnya cepet. filenya sekitar 14.5 MB lumayan agak lama kalo bandwide nya kecil.

Instalasi :

2. Install aplikasi YM…. installnya cuman Next… Next… Next…. aja kok…. sampai finish.

3. setelah di install… buka aplikasinya dari ….Start….All Programs….. Yahoo! Messenger…:) Yahoo! Messenger.

masukin user name :

masukin password :

terus klik sign in …….ud beres deh.

bagi yang belum punya id bisa langsung daftar di menu setelah password “Get a new yahoo! ID…

Daftar :

masukin deh data data yang diperluin…..

terus Create my account…

beres deh…..

sekarang tinggal masukin user dan passwordnya.

Login :

setelah berhasil login terus cari temen temen yang mau di add atau di daftarin sebagai temen kita

caranya :

Klik menu   Contacts ….add contact terus cari deh nama id temen yang mau dijadiin temen kita

terus klik next… next… next… sampe finish.

terus tunggu temen yang baru di add barusan tadi ngebales atau menerima permintaan barusan.

kalo ud di add sama temen, maka nanti ada informasi balasan. terus klik yes.

ulangi deh langkah barusan untuk mencari temen temen yang lainnya juga.

selesai deh

gampang banget ya…. hehee…. selamat menikmati….

bagian gambar yang 3 terakhir sengaja saya gedein haha… kali aj gak kelihatan.

Komentar bertahan »

Kode Tombol Rahasia Nokia (GSM dan CDMA)

Berikut ini adalah kunci kode tombol rahasia yang dapat anda jalankan sendiri dengan mengetiknya di keypad hp ponsel anda yang bermerek Nokia baik yang cdma maupun yang gsm.

1. Melihat IMEI (International Mobile Equipment Identity)
Caranya tekan * # 0 6 #

2. Melihat versi software, tanggal pembuatan softwre dan jenis kompresi software
Caranya tekan * # 0 0 0 0 #
Jika tidak berhasil coba pencet * # 9 9 9 9 #

3. Melihat status call waiting
Caranya tekan * # 4 3 #

4. Melihat nomor / nomer private number yang menghubungi ponsel anda
Caranya tekan * # 3 0 #

5. Menampilkan nomer pengalihan telepon all calls
Caranya tekan * # 2 1 #

6. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena tidak anda jawab (call divert on)
Caranya tekan * # 6 1 #7

7. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena di luar jangkauan (call divert on)
Caranya tekan * # 6 2 #

8. Melihat nomor penelepon pada pengalihan telepon karena sibuk (call divert on)
Caranya tekan * # 6 7 #

9. Merubah logo operator pada nokia type 3310 dan 3330
Caranya tekan * # 6 7 7 0 5 6 4 6 #

10. Menampilkan status sim clock
Caranya tekan * # 7 4 6 0 2 5 6 2 5 #

11. Berpindah ke profil profile ponsel anda
Caranya tekan tombol power off tanpa ditahan

12. Merubah seting hp nokia ke default atau pabrikan
Caranya tekan * # 7 7 8 0 #

13. Melakukan reset timer ponsel dan skor game ponsel nokia
Caranya tekan * # 7 3 #

14. Melihat status call waiting
Caranya tekan * # 4 3 #

15. Melihat kode pabrik atau factory code
Caranya tekan * # 7 7 6 0 #

16. Menampilkan serial number atau nomer seri hp, tanggal pembuatan, tanggal pembelian, tanggal servis terakhir, transfer user data. Untuk keluar ponsel harus direset kembali.
Caranya tekan * # 92702689 #

17. Melihat kode pengamanan ponsel anda
Caranya tekan * # 2 6 4 0 #

18. Melihat alamat ip perangkat keras bluetooth anda
Caranya tekan * # 2 8 2 0 #

19. Mengaktifkan EFR dengan kualitas suara terbaik namun boros energi batere. Untuk mematikan menggunakan kode yang sama.
Caranya tekan * # 3 3 7 0 #

20. Mengaktifkan EFR dengan kualitas suara terendah namun hemat energi batere. Untuk mematikan menggunakan kode yang sama.
Caranya tekan * # 4 7 2 0 #

21. Menuju isi phone book dengan cepat di handphone nokia
Caranya tekan nomer urut lalu # contoh : 150#

22. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk semua panggilan
Caranya tekan * * 2 1 * Nomor Tujuan #

23. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk panggilan yang tidak terjawab
Caranya tekan * * 6 1 * Nomor Tujuan #

24. Mengalihkan panggilan ke nomor yang dituju untuk panggilan ketika telepon hp anda sedang sibuk
Caranya tekan * * 6 7 * Nomor Tujuan #

Komentar bertahan »

Kode Nomor GSM Di Indonesia

0811 xxxx = Telkomsel Kartu Halo
0812 xxxx = Telkomsel Kartu Halo / Simpati 11 digit
0813 xxxx = Telkomsel Simpati
0852 xxxx =Telkomsel Kartu As
0853 xxxx = Telkomsel Reserve (dulunya Telkom Mobile)
0817……..= XL Prabayar & Pascabayar
0818……..= XL Prabayar & Pascabayar
0819……..= XL Prabayar & Pascabayar
0859……..= XL Prabayar & Pascabayar
0878……..= XL Prabayar & Pascabayar new!!
0828—-= Sampoerna Telekom Ceria (Prabayar & Pascabayar)
08315….= Lippo Telecom Prabayar & Pascabayar (Area Jatim)
0838……= NTS 3G Prabayar & Pascabayar
0814 xxxx = Indosat Matrix 3G
0815 xxxx = Indosat Matrix / Mentari
0816 xxxx = Indosat Matrix / Mentari
0855 xxxx = Indosat Matrix Bright
0856 xxxx = Indosat IM3…..
0858 xxxx = Indosat Mentari
0868……= PSN (Satelit GSM) Byru (Prabayar & Pascabayar)
0881-0887….= SMART (Prabayar & Pascabayar)
0888-0889… = Fren Prabayar & Pascabayar
0898-0899….= Three Prabayar & Pascabayar

bagi yang gak tau kode nomor GSM silahkan catet ya,… biar kalo nelpon gak takut salah & ngabisin pulsa heheh…..

Komentar bertahan »

Multi Layer Switch dengan Inter Vlan Communication

Multi layer switching adalah cara dimana menyusun perangkat network switch menjadi beberapa tingkatan dikarenakan end user yang terkoneksi ke dalam suatu jaringan memiliki jumlah yang banyak, sehingga kita perlu melakukan trunking (menyambungkan switch satu dengan switch lain) antar network switch secara bertingkat. Di bawah ini merupakan contoh multi layer switching yang disimulasikan dengan program Packet Tracer milik Cisco.

multi layer switching

Pada gambar di atas network switch tersusun atas 3 layer (tingkatan) yaitu Core Switch sebagai layer pertama, Distribution Switch sebagai layer kedua dan Access Switch sebagai layer ketiga. Fungsi Core Switch adalah sebagai network switch yang menggabungkan beberapa device network switch menjadi satu kesatuan (integrated network). Distribution Switch berfungsi sebagai penghubung antara Core Switch dengan Access Switch. Access Switch berfungsi sebagai penghubung antara network dengan computer end user. Jadi kesimpulannya dengan menggunakan metode multi layer switch kita dapat melakukan extend (perluasan) jumlah komputer yang terkoneksi ke dalam jaringan. Contoh susunan 3 layer network switch di atas dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa layer ke bawah tergantung dari kebutuhan jumlah jaringan.

Command line CISCO untuk switch trunking dipergunakan untuk menyusun multi layer switch seperti di atas. Caranya adalah masuk ke dalam mode configurasi switch kemudian akses port interface switch yang akan dipakai untuk trunking dan set mode port tersebut ke trunking. Contohnya command line nya adalah sebagai berikut :

trunking switch

Di atas gw mengkonfigurasi Core Switch (CISCO 3560) agar port fast ethernet nomor 1 memiliki mode trunk, karena interface fast ethernet nomor 1 berhubungan dengan Distribution Switch 1 interface fast ethernet nomor 24. Di bawah ini adalah contoh konfigurasi Distribution Switch 1 port fast ethernet 24 untuk mode trunk.

trunking distribution switch

Dengan cara-cara konfigurasi seperti di atas kita telah menghubungkan / melakukan trunking antar 2 network switch. Untuk menghubungkan network switch yang lain sama halnya seperti cara di atas. Kesimpulannya adalah apabila kita ingin menghubungkan device network switch satu dengan yang lainnya, kita harus melakukan set mode trunk pada port interface yang dipergunakan untuk penghubung antar switch.

Vlan adalah fasilitas yang diberikan untuk melakukan pengelompokan jaringan besar menjadi segmen-segmen jaringan kecil. Ilustrasi penggunaan vlan adalah seperti ini, biasanya apabila kita mengimplementasikan sistem network di dalam suatu perusahaan kita harus membatasi akses jaringan suatu unit kerja agar tidak berkomunikasi dengan unit kerja yang lain. Caranya adalah kita mendefinisikan vlan untuk masing-masing unit kerja; misalnya vlan 101 dengan nama alias vlan_keuangan untuk unit keuangan, vlan 102 dengan nama alias vlan_sdm untuk unit sdm, vlan 103 dengan nama alias vlan_operasional untuk unit operasional, dst. Dengan adanya pendefinisian vlan untuk masing-masing unit kita bisa membuat seolah-olah network unit satu tidak bisa berkomunikasi dengan network unit lain walaupun network sudah terintegrasi. Di bawah ini merupakan contoh cara pendefinisian beberapa vlan pada network switch.

vlan definition

Untuk multi layer switch pendefinisian vlan seperti di atas dilakukan pada masing – masing switch, sehingga setiap switch pada network mengetahui vlan apa saja yang ada di sistem network tersebut. Untuk mengetahui vlan – vlan apa saja yang telah kita daftarkan dalam suatu device network switch kita dapat mengetik command “show vlan brief” pada mode non configurable, contohnya seperti di bawah ini.

vlan brief

Dapat dilihat di atas ada beberapa vlan yang walaupun kita tidak definisikan tetapi sudah ada di dalam daftar. Vlan – vlan tersebut dinamakan default vlan. Berdasarkan data dari “show vlan brief” di atas kita melihat bahwa port interface fast ethernet nomor 1 – 24 dan port interface gigabit ethernet 1 dan 2 akan masuk dalam kategori vlan 1 (vlan default). Kita dapat merubah beberapa port interface ke vlan-vlan yang telah kita definisikan.

simple topology

Misalkan kita memiliki topology (struktur network) sederhana seperti di atas, dimana satu switch dipakai untuk 2 unit CPU bagian keuangan, 1 unit CPU bagian SDM dan 1 unit CPU bagian operasional. PC no. 1 keuangan terkoneksi pada port fastethernet no.1, PC no. 2 keuangan terkoneksi pada port fast ethernet no.4, PC SDM terkoneksi pada port fast ethernet no. 2 dan PC operasional terkoneksi pada port fast ethernet no.3. PC 1 dan 2 Keuangan akan ada di vlan 101 (artinya port fast ethernet no.1 dan no. 4 akan kita set masuk ke dalam vlan 101), PC SDM akan ada di vlan 102 (artinya port fast ethernet no. 2 akan kita set masuk ke dalam vlan 102) dan PC Operasional akan ada di vlan 103 (artinya port fast ethernet no. 3 akan kita set masuk ke dalam vlan 103). Cara melakukan konfigurasi pada switch nya adalah sebagai berikut.

vlan port definition

Masuk pada port interface yang akan diset. Set mode port tersebut ke mode access. Mode access dipergunakan apabila port switch langsung dihubungkan ke komputer end user, lain halnya apabila dihubungkan ke switch lain mode harus di set ke trunk. Lalu lakukan pemindahan port interface ke vlan. Setelah melakukan set mode port interface fast ethernet, lakukan setting IP address pada masing masing komputer dengan ketentuan sebagai berikut :

PC 1 keuangan = IP : 10.1.101.11, subnet mask : 255.255.255.0, gateway : kosong (karena kita tidak menggunakan sistem routing)

PC 2 keuangan = IP : 10.1.101.12, subnet mask : 255.255.255.0, gateway : kosong (karena kita tidak menggunakan sistem routing)

PC SDM = IP : 10.1.102.11, subnet mask : 255.255.255.0, gateway : kosong (karena kita tidak menggunakan sistem routing)

PC Operasional = IP : 10.1.103.11, subnet mask : 255.255.255.0, gateway : kosong (karena kita tidak menggunakan sistem routing)

set ip

Setelah semua PC diset IP address lakukan test ping ke beberapa komputer. Contoh di bawah ini gw melakukan test ping dari PC 1 Keuangan ke PC 2 Keuangan ternyata ada reply karena berada pada vlan yang sama, sedangkan pada saat test ping dari PC 1 Keuangan ke PC SDM ternyata “Request Timed Out (RTO)” karena berada pada vlan yang berbeda.

test ping

Kesimpulannya adalah dengan memanfaatkan vlan kita melakukan pengelompokan jaringan menjadi beberapa segmen yang membatasi akses network antar satu bagian ke bagian yang lain. Dalam satu network switch bisa terdapat 1 atau lebih jumlah vlan, tergantung dari kebutuhan network.

Inter Vlan Communication adalah mekanisme dimana melakukan setting agar network di dalam vlan satu dapat berkomunikasi dengan vlan yang lainnya, walaupun sebenarnya dengan adanya vlan membatasi ruang gerak komunikasi antar network. Inter Vlan Communication ada dikarenakan adanya beberapa kebutuhan agar suatu PC di vlan tertentu dapat berhubungan dengan device pada vlan network yang lain, misalnya PC di vlan Keuangan harus berkomunikasi pada PC Server di vlan Server. Untuk melakukan mekanisme Inter Vlan Communication kita harus meng-enable mode ip routing. Di bawah ini gw memberikan contoh topology sederhana yang menyangkut Inter Vlan Communication.

inter vlan communication

Di atas merupakan topology sederhana untuk mempraktekkan Inter Vlan Communication. Mode IP Routing hanya ada pada Device Router dan Device Switch (tidak semua switch CISCO). Pada contoh di atas saya menggunakan device network switch Cisco 3560. Ada 3 vlan yang didefinisikan pada device switch yaitu vlan 100 sebagai vlan_management, vlan 101 sebagai vlan_keuangan dan vlan 102 sebagai vlan_sdm. Langkah – langkah konfigurasi switch nya adalah sebagai berikut :

1. Enable mode IP Routing pada Switch 3560

2. Buat daftar vlan

3. Set vlan dengan IP address

4. Rubah mode port interface fast ethernet sesuai dengan vlan nya masing – masing (pada contoh port 1 sebagai vlan 101 dan port 2 sebagai vlan 102)

setting switch inter vlan

Setelah mengkonfigurasi network switch lakukan setting ip address ke komputer dengan contoh pengalamatan sebagai berikut :

PC 1 = IP : 10.1.101.11, subnet mask : 255.255.255.0, gateway : 10.1.101.1 (sesuai dengan ip address vlan 101)

PC 2 = IP : 10.1.102.11, subnet mask : 255.255.255.0, gateway : 10.1.102.1 (sesuai dengan ip address vlan 102)

Kemudian lakukan test ping dari PC 1 ke PC 2 dan lihat apa yang terjadi.

test ping

Ternyata setelah dilakukan test ping dari PC 1 (vlan 101) ke PC 2 (vlan 102) ada reply dari PC 2, maka inilah yang disebut dengan Inter Vlan Communication. Bagaimana kalau seandainya ada switch penghubung antara Switch Cisco 3560 dengan PC seperti gambar di bawah ini.

inter vlan multi layer

Jawabannya adalah seperti langkah – langkah di bawah ini :

1. Set terlebih dahulu mode trunk pada interface yang dipergunakan untuk menghubungkan antara Switch 3560 dengan Switch 2960.

2. Definisikan vlan di Switch 2960 sama dengan Switch 3560 (tidak perlu set ip address untuk masing-masing vlan di Switch 2960).

3. Ketik command line “ip default-gateway 10.1.1.1″ agar traffic dari PC menuju ke Switch 2960 dilarikan ke Switch 3560.

configure switch 2960

Apabila switch 2960 selesai di konfigurasi, set kembali ip address PC sama seperti di atas, kemudian test ping dari PC 1 ke PC 2 dan terakhir test tracert untuk mengetahui jalur traffic.

test ping

Dapat di lihat dari contoh test ping di atas bahwa ada reply dari PC 2 ke PC 2. Jalur dari test tracert juga menunjukkan traffic melalui ip 10.1.101.1 (ip address pada vlan 101 yang di set di switch 3560) terlebih dahulu baru sampai ke PC 2.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita melakukan block traffic dari vlan – vlan tertentu yang seyogyanya metode vlan adalah untuk blocking traffic network. Jawabannya adalah menggunakan fasilitas “Access List”, tapi bagian Access List gw akan bahas pada postingan yang berikutnya ……. kalo sempat …… hehehe

Ini link simulasi latian packet tracer gw yang gambar paling atas, kalo mau coba silahkan download dan buka di packet tracer 5.

Komentar bertahan »

Menggunakan Software Packet Tracer 5.0

Pada contoh kasus ini terdapat empat sub-network yang harus dihubungkan. Jadi setiap router terhubung dengan dua network yang berbeda. Dengan demikian pada contoh kasus ini membutuhkan 3 router. Berikut ini merupakan skema dari jaringan yang akan dibangun.

Gambar 1 Menggunakan 3 router dalam 4 network

Gambar 2 Skema yang dibangun di atas software Packet Tracer 5.0

Langkah Kerja

  1. Jalankan Packet Tracer 5.0, buat logical network baru dengan mengklik menu File > New atau Ctrl+N
  2. Pilih icon yang bergambar Router seperti gambar di bawah ini:

  3. Drag & Drop komponen yang dibutuhkan. Komponen tersebut antara lain 4 unit End Device (PC), 2 unit Switch, 2 unit Hub, dan 3 unit Router (Router 1, Router2 dan Router 3).
  4. Hubungkan masing-masing komponen tersebut dengan menggunakan koneksi kabel Copper Straight-through, sehingga skema jaringan akan tampak seperti Gambar 2
  5. Setelah itu, kita akan memulai mengkonfigurasi masing-masing komponen, yaitu PCs dan Routers. Sedangkan Switch dan Hub tidak perlu dikonfigurasikan karena dalam hal ini hanya berfungsi sekedar penghubung PCs dan Router saja.
  6. Cara konfigurasi PCs :
    • Klik pada PC0 sehingga akan tampak gambar dibawah ini:
  7. Konfigurasi PCKonfigurasi PC

     

    Pilih IP Configuration, maka akan tampak gambar seperti di bawah ini:

    Pada Radio Button pilihlah Static, lalu isikan IP Address. Pada contoh ini saya memasukan IP Address untuk PC0 dengan:

    IP Address: 192.168.18.2

    Netmask: 255.255.255.0

    Default Gateway: 192.168.18.1

    IP Address untuk PC 1:

    IP Address: 192.168.20.2

    Netmask: 255.255.255.0

    Default Gateway: 192.168.20.1

    IP Address untuk PC 2:

    IP Address: 192.168.30.2

    Netmask: 255.255.255.0

    Default Gateway: 192.168.30.1

    IP Address untuk PC 3:

    IP Address: 192.168.40.2

    Netmask: 255.255.255.0

    Default Gateway: 192.168.40.1

    Kita tentukan bahwa setiap network mempunyai default gateway seperti gambar dibawah ini:

  8. Konfigurasi Routing Table :
    • Klik pada Router sehingga akan tampak gambar seperti dibawah ini:

  9. Pilihlah FastEthernet0/0, maka akan tampak gambar seperti dibawah ini:

    Pilihlah FastEthernet0/0, maka akan tampak gambar seperti dibawah ini:

    Masukkan IP Address ke Router 1 pada FastEthernet0/0:

    IP Address: 192.168.18.1

    Netmask: 255.255.255.0

    Masukkan IP Address ke Router 1 pada FastEthernet1/0:

    IP Address: 192.168.20.1

    Netmask: 255.255.255.0

    Jangan lupa untuk menyalahkan Port Status dengan menceklisnya dalam posisi ON.

    Masukkan IP Address ke Router 2 pada FastEthernet0/0:

    IP Address: 192.168.20.254

    Netmask: 255.255.255.0

    Masukkan IP Address ke Router 2 pada FastEthenet1/0:

    IP Address: 192.168.30.254

    Netmask: 255.255.255.0

    Jangan lupa untuk menyalahkan Port Status dengan menceklisnya dalam posisi ON.

    Masukkan IP Address ke Router 3 pada FastEthernet0/0:

    IP Address: 192.168.30.1

    Netmask: 255.255.255.0

    Masukkan IP Address ke Router 3 pada FastEthernet1/0:

    IP Address: 192.168.40.1

    Netmask: 255.255.255.0

    Jangan lupa untuk menyalahkan Port Status dengan menceklisnya dalam posisi ON.

    Pada Router 1 kita akan memasukkan IP pada Routing Table, karena Network A akan melakukan proses ping ke Network C dan Network D, maka dari itu kita akan membuat Routing Table yang menghubungkan Network A ke Network C dan Network D, sehingga kita dapat Routing Table seperti gambar table yang ada di atas Routing Table pada router 1.

    Begitu juga seterusnya pada Router 2 dan Router 3.

    Cara memasukkan Routing Table pada Router 1 dengan cara di bawah ini:

    Pilihlah static, lalu masukkan sesuai dengan Routing Table yang kita buat di atas. Pada contoh ini saya memasukkan Routing Table pada router 1.

    Network: 192.168.40.0

    Netmask: 255.255.255.0

    Next Hop: 192.168.30.1

    Proses selanjutnya masukkan seluruh Routing Table yang kita buat di atas ke dalam setiap Router 2 dan Router 3.

Selanjutnya lakukan Ping dari PC0 ke PC3 (IP 192.168.40.2) dengan cara :

Klik PC0 Lalu pilih Command Prompt:

PC>ping 192.168.40.2

Reply from 192.168.40.2: bytes=32 time=170ms TTL=125

Reply from 192.168.40.2: bytes=32 time=171ms TTL=125

Reply from 192.168.40.2: bytes=32 time=149ms TTL=125

Ping statistics for 192.168.40.2

Packets: Sent = 4, Received = 3, Los = 1 (25% loss), Approximate round trip times in milli-seconds: Minimum = 149ms, Maximum = 171ms, Average = 163ms

PC>

Jika tampil seperti di atas bahwa antar Netwiork bisa saling terhubung

Kesimpulan:

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keempat PC dalam 4 Network A, Network B, Network C dan Network D yang saling berbeda jaringannya dapat terhubung dengan menggunakan mekanisme Static Routing.

Komentar bertahan »

Pengenalan Packet tracer

Packet tracer adalah software simulasi jaringan (Network Simulation) yang di gunakan untuk membuat sebuah topologi ataupun layout jaringan sebelum membuat jaringan yang “sebenarnya”. Packet tracer terdesign sedemikian rupa sehingga simulasi yang dibuat oleh pengguna software ini seakan-akan seperti nyata. Selain packet tracer ada pula software simulasi jaringan lainnya seperti Boson NetSim, Router Sim Netrowk Visualizer, dan lain-lain yang belum saya ketahui.

Rekan-rekan bisa mengambil (download) softwarenya di sini

Pada post ini saya akan berbagi ilmu kepada rekan-rekan semua, bagaimana cara membuat simulasi jaringan dengan menggunakan software packet tracer ver. 5.0. Namun, sebelum membuat sebuah layout jaringan ada baiknya jika kita mengenali software yang akan kita gunakan terlebih dahulu. :)
Ok, tanpa banyak banyak basa-basi, mari kita mulai dari tahap awal.

Buka program 5.0 (Start > Programs > Packet Tracer 5.0 > Packet Tracer 5.0)
Open Packet Tracer

Gambar di bawah ini adalah tampilan awal dari packet tracer 5.0, perhatikan gambar ini.

Keterangan gambar :

  1. Menubar dan toolbar.
  2. Logical, dimana kita akan membuat sebuah simulasi jaringan pada tab bagian ini.
  3. Physical, untuk membuat layout atau bentuk dimana setiap periferal diletakkan dengan baik dan rapi. Pada tab ini rekan-rekan bisa membuat sebuah kota, gedung dan ruangan.
  4. New Cluster, untuk mengelompokkan beberapa periferal menjadi 1 jaringan.
  5. Move Object, untuk memindahkan periferal ke cluster yang berbeda.
  6. Set Tiled Background, berfungsi untuk mengubah background pada stage.
  7. Viewport, untuk melihat keseluruhan jaringan yang telah dibuat.
  8. Tools packet tracer yang digunakan untuk mem-Blok, mengeser stage, Menyisipkan catatan atau keterangan, menghapus periferal, zooming, untuk mengetest jaringan.
  9. Stage untuk menaruh setiap periferal yang dibutuhkan, disini rekan-rekan bisa menaruh semua periferal yang diinginkan tergantung dari layout jaringan sepeti apa yang dimaksud.
  10. Network periferal, semua kebutuhan alat-alat jaringan terdapat pada bagian ini. Mulai dari router, switch, hub, wireless, server, printer, PC, koneksi yang akan dibuat, dan lain-lain.
  11. Sub Network periferal, pada bagian ini rekan-rekan bisa memilih devices sesuai yang diinginkan.
  12. Untuk membuat sebuah skenario.
  13. Status, Keterangan jika kita ingin mengtest suatu PC ke PC, apakah failed atau succesful.
  14. Realtime, dimana kita bisa meng-edit, copy, paste, delete layout jaringan yang sedang kita buat.
  15. Simulation, tab ini adalah proses untuk simulasi jaringan. Jadi, ketika rekan-rekan memilih tab ini proses simulasi akan segera dimulai.

Demikian sharing kita pada Learn packet tracer – 1 ini.

Kita akan lanjutkan sharing tentang Packet Tracer pada sharing berikutnya.

 

Komentar bertahan »

PEMBAHASAN OSI LAYER dan TCP/IP

Kategori: Tugas Jarkom

Sistem berlapis pada komunikasi dibuat agar  komputer dapat berkomunikasi pada jaringan yang berbeda secara efisien, misalnya pada OSI Layer

Sebelum munculnya model referensi OSI, sistem jaringan komputer sangat tergantung kepada pemasok (vendor). OSI berupaya membentuk standar umum jaringan komputer untuk menunjang interoperatibilitas antar pemasok yang berbeda. Dalam suatu jaringan yang besar biasanya terdapat banyak protokol jaringan yang berbeda. Tidak adanya suatu protokol yang sama, membuat banyak perangkat tidak bisa saling berkomunikasi.

OSI Reference Model pun akhirnya dilihat sebagai sebuah model ideal dari koneksi logis yang harus terjadi agar komunikasi data dalam jaringan dapat berlangsung. Beberapa protokol yang digunakan dalam dunia nyata, semacam TCP/IP, DECnet dan IBM Systems Network Architecture (SNA) memetakan tumpukan protokol (protocol stack ) mereka ke OSI Reference Model. OSI Reference Model pun digunakan sebagai titik awal untuk mempelajari bagaimana beberapa protokol jaringan di dalam sebuah kumpulan protokol dapat berfungsi dan berinteraksi dengan baik.

Pembahasan OSI Layer dengan TCP/IP Layer dan Perbandingannya.

Model dibagi menjadi 7 layer, dengan karakteristik dan fungsinya masing-masing. Tiap layer harus dapat berkomunikasi dengan layer di atasnya maupun dibawahnya secara langsung melalui serentetan protokol dan standard.

Model OSI Keterangan

Ketika data ditransfer melalui jaringan, sebelumnya data tersebut harus melewati ke-tujuh layer dari satu terminal, mulai dari layer aplikasi sampai physical layer, kemudian di sisi penerima, data tersebut melewati layer physical sampai aplikasi. Pada saat data melewati satu layer dari sisi pengirim, maka akan ditambahkan satu “header” sedangkan pada sisi penerima “header” dicopot sesuai dengan layernya.

Model OSI

Tujuan utama penggunaan model OSI adalah untuk membantu desainer jaringan memahami fungsi dari tiap-tiap layer yang berhubungan dengan aliran komunikasi data. Termasuk jenis-jenis protoklol jaringan dan metode transmisi.

Adapun fungsi dari tiap layer yaitu :

Application Layer: Menyediakan jasa untuk aplikasi pengguna. Layer ini bertanggungjawab atas pertukaran informasi antara program komputer, seperti program e-mail, dan service lain yang jalan di jaringan, seperti server printer atau aplikasi komputer lainnya.

Presentation Layer atau Lapisan presentasi: adalah lapisan keenam dari bawah dalam model referensi jaringan terbuka OSI. Pada lapisan ini terjadi pembuatan struktur data yang didapatnya dari lapisan aplikasi ke sebuah format yang dapat ditransmisikan melalui jaringan.

Lapisan ini juga bertanggungjawab untuk melakukan enkripsi data, kompresi data, konversi set karakter (ASCII, Unicode, EBCDIC, atau set karakter lainnya), interpretasi perintah-perintah grafis, dan beberapa lainnya. Dalam arsitektur TCP/IP yang menggunakan model DARPA, tidak terdapat protokol lapisan ini secara khusus.

Session Layer atau Lapisan sesi adalah lapisan kelima dari bawah dalam model referensi jaringan OSI, yang mengizinkan sesi koneksi antara node dalam sebuah jaringan dibuat atau dihancurkan. Lapisan sesi tidak tahu menahu mengenai efisiensi dan keandalan dalam transfer data antara node-node tersebut, karena fungsi-fungsi tersebut disediakan oleh empat lapisan di bawahnya dari dalam model OSI (lapisan fisik, lapisan data-link, lapisan jaringan dan lapisan transport).

Lapisan sesi bertanggung jawab untuk melakukan sinkronisasi antara pertukaran data antar komputer, membuat struktur sesi komunikasi, dan beberapa masalah yang berkaitan secara langsung dengan percakapan antara node-node yang saling terhubung di dalam jaringan. Lapisan ini juga bertanggung jawab untuk melakukan fungsi pengenalan nama pada tingkat nama jaringan logis dan juga menetapkan [[[port TCP|port-port komunikasi]]. Sebagai contoh, protokol NetBIOS dapat dianggap sebagai sebuah protokol yang berjalan pada lapisan ini.

Lapisan sesi dari model OSI tidak banyak diimplementasikan di dalam beberapa protokol jaringan populer, seperti halnya TCP/IP atau IPX/SPX. Akan tetapi, tiga lapisan tertinggi di dalam model OSI (lapisan sesi, lapisan presentasi, dan lapisan aplikasi) seringnya disebut sebagai sebuah kumpulan yang homogen, sebagai sebuah lapisan aplikasi saja.

Transport Layer atau Lapisan transpor adalah lapisan keempat dari model referensi jaringan OSI.

Lapisan transpor bertanggung jawab untuk menyediakan layanan-layanan yang dapat diandalkan kepada protokol-protokol yang terletak di atasnya. Layanan yang dimaksud antara lain:

  • Mengatur alur (flow control) untuk menjamin bahwa perangkat yang mentransmisikan data tidak mengirimkan lebih banyak data daripada yang dapat ditangani oleh perangkat yang menerimanya.
  • Mengurutkan paket (packet sequencing), yang dilakukan untuk mengubah data yang hendak dikirimkan menjadi segmen-segmen data (proses ini disebut dengan proses segmentasi/segmentation), dan tentunya memiliki fitur untuk menyusunnya kembali.
  • Penanganan kesalahan dan fitur acknowledgmet untuk menjamin bahwa data telah dikirimkan dengan benar dan akan dikirimkan lagi ketika memang data tidak sampai ke tujuan.
  • Multiplexing, yang dapat digunakan untuk menggabungkan data dari bebeberapa sumber untuk mengirimkannya melalui satu jalur data saja.
  • Pembentukan sirkuit virtual, yang dilakukan dalam rangka membuat sesi koneksi antara dua node yang hendak berkomunikasi.

Contoh dari protokol yang bekerja pada lapisan transport adalah Transmission Control Protocol (TCP) dan User Datagram Protocol (UDP) yang tersedia dari kumpulan protokol TCP/IP.

Lapisan jaringan atau Network layer adalah lapisan ketiga dari bawah dalam model referensi jaringan OSI. Lapisan ini bertanggung jawab untuk melakukan beberapa fungsi berikut:

  • Pengalamatan logis dan melakukan pemetaan (routing) terhadap paket-paket melalui jaringan.
  • Membuat dan menghapus koneksi dan jalur koneksi antara dua node di dalam sebuah jaringan.
  • Mentransfer data, membuat dan mengkonfirmasi penerimaan, dan mengeset ulang koneksi.

Lapisan jaringan juga menyediakan layanan connectionless dan connection-oriented terhadap lapisan transport yang berada di atasnya. Lapisan jaringan juga melakukan fungsinya secara erat dengan lapisan fisik (lapisan pertama) dan lapisan data-link (lapisan kedua) dalam banyak implementasi protokol dunia nyata.

Dalam jaringan berbasis TCP/IP, alamat IP digunakan di dalam lapisan ini. Router IP juga melakukan fungsi routing-nya di dalam lapisan ini.

Data Link Layer: Menyediakan link untuk data, memaketkannya menjadi frame yang berhubungan dengan “hardware” kemudian diangkut melalui media. komunikasinya dengan kartu jaringan, mengatur komunikasi layer physical antara sistem koneksi dan penanganan error.

Physical Layer: Bertanggung jawab atas proses data menjadi bit dan mentransfernya melalui media, seperti kabel, dan menjaga koneksi fisik antar sistem.

Transmission Control Protocol

Transmission Control Protocol (TCP) adalah suatu protocol yang berada di lapisan transport  (baik itu dalam tujuh lapis model referensi OSI atau model DARPA ) yang berorientasi sambungan (connection-oriented) dan dapat diandalkan (reliable). TCP dispesifikasikan dalam RFC 793

Karakteristik TCP

TCP memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Berorientasi sambungan (connection-oriented): Sebelum data dapat ditransmisikan antara dua host, dua proses yang berjalan pada lapisan aplikasi harus melakukan negosiasi untuk membuat sesi koneksi terlebih dahulu. Koneksi TCP ditutup dengan menggunakan proses terminasi koneksi TCP (TCP connection termination).
  • Full-duplex: Untuk setiap host TCP, koneksi yang terjadi antara dua host terdiri atas dua buah jalur, yakni jalur keluar dan jalur masuk. Dengan menggunakan teknologi lapisan yang lebih rendah yang mendukung full-duplex, maka data pun dapat secara simultan diterima dan dikirim. Header TCP berisi nomor urut (TCP sequence number) dari data yang ditransmisikan dan sebuah acknowledgment dari data yang masuk.
  • Dapat diandalkan (reliable): Data yang dikirimkan ke sebuah koneksi TCP akan diurutkan dengan sebuah nomor urut paket dan akan mengharapkan paket positive acknowledgment dari penerima. Jika tidak ada paket Acknowledgment dari penerima, maka segmen TCP (protocol data unit dalam protokol TCP) akan ditransmisikan ulang. Pada pihak penerima, segmen-segmen duplikat akan diabaikan dan segmen-segmen yang datang tidak sesuai dengan urutannya akan diletakkan di belakang untuk mengurutkan segmen-segmen TCP. Untuk menjamin integritas setiap segmen TCP, TCP mengimplementasikan penghitungan TCP Checksum.
  • Byte stream: TCP melihat data yang dikirimkan dan diterima melalui dua jalur masuk dan jalur keluar TCP sebagai sebuah byte stream yang berdekatan (kontigu). Nomor urut TCP dan nomor acknowlegment dalam setiap header TCP didefinisikan juga dalam bentuk byte. Meski demikian, TCP tidak mengetahui batasan pesan-pesan di dalam byte stream TCP tersebut. Untuk melakukannya, hal ini diserahkan kepada protokol lapisan aplikasi (dalam DARPA Reference Model), yang harus menerjemahkan byte stream TCP ke dalam “bahasa” yang ia pahami.
  • Memiliki layanan flow control: Untuk mencegah data terlalu banyak dikirimkan pada satu waktu, yang akhirnya membuat “macet” jaringan internetwork IP, TCP mengimplementasikan layanan flow control yang dimiliki oleh pihak pengirim yang secara terus menerus memantau dan membatasi jumlah data yang dikirimkan pada satu waktu. Untuk mencegah pihak penerima untuk memperoleh data yang tidak dapat disangganya (buffer), TCP juga mengimplementasikan flow control dalam pihak penerima, yang mengindikasikan jumlah buffer yang masih tersedia dalam pihak penerima.
  • Melakukan segmentasi terhadap data yang datang dari lapisan aplikasi (dalam DARPA Reference Model)
  • Mengirimkan paket secara “one-to-one“: hal ini karena memang TCP harus membuat sebuah sirkuit logis antara dua buah protokol lapisan aplikasi agar saling dapat berkomunikasi. TCP tidak menyediakan layanan pengiriman data secara one-to-many.

TCP umumnya digunakan ketika protokol lapisan aplikasi membutuhkan layanan transfer data yang bersifat andal, yang layanan tersebut tidak dimiliki oleh protokol lapisan aplikasi tersebut. Contoh dari protokol yang menggunakan TCP adalah HTTP dan FTP.

Segmen TCP

Segmen-segmen TCP akan dikirimkan sebagai datagram-datagram IP (datagram merupakan satuan protocol data unit pada lapisan internetwork). Sebuah segmen TCP terdiri atas sebuah header dan segmen data (payload), yang dienkapsulasi dengan menggunakan header IP dari protokol IP.

Proses enkapsulasi data protokol TCP/IP: Data aplikasi + header TCP + header IP + header network interface (Ethernet, Token Ring, dll) + trailer network interface

Sebuah segmen dapat berukuran hingga 65495 byte: 216-(ukuran header IP terkecil (20 byte)+ukuran header TCP terkecil (20 byte)). Datagram IP tersebut akan dienkapsulasi lagi dengan menggunakan header protokol network interface (lapisan pertama dalam DARPA Reference Model) menjadi frame lapisan Network Interface. Gambar berikut mengilustrasikan data yang dikirimkan ke sebuah host.

Di dalam header IP dari sebuah segmen TCP, field Source IP Address diatur menjadi alamat unicast dari sebuah antarmuka host yang mengirimkan segmen TCP yang bersangkutan. Sementara itu, field Destination IP Address juga akan diatur menjadi alamat unicast dari sebuah antarmuka host tertentu yang dituju. Hal ini dikarenakan, protokol TCP hanya mendukung transmisi one-to-one.

Header TCP

Ukuran dari header TCP adalah bervariasi, yang terdiri atas beberapa field yang ditunjukkan dalam gambar dan tabel berikut. Ukuran TCP header paling kecil (ketika tidak ada tambahan opsi TCP) adalah 20 byte.

Format header TCP, dilengkapi dengan ukuran setiap field-nya

Nama field

Ukuran

Keterangan

Source Port

2 byte (16 bit)

Mengindikasikan sumber protokol lapisan aplikasi yang mengirimkan segmen TCP yang bersangkutan. Gabungan antara field Source IP Address dalam header IP dan field Source Port dalam field header TCP disebut juga sebagai socket sumber, yang berarti sebuah alamat global dari mana segmen dikirimkan. Lihat juga Port TCP.

Destination Port

2 byte (16 bit)

Mengindikasikan tujuan protokol lapisan aplikasi yang menerima segmen TCP yang bersangkutan. Gabungan antara field Destination IP Address dalam header IP dan field Destination Port dalam field header TCP disebut juga sebagai socket tujuan, yang berarti sebuah alamat global ke mana segmen akan dikirimkan.

Sequence Number

4 byte (32 bit)

Mengindikasikan nomor urut dari oktet pertama dari data di dalam sebuah segmen TCP yang hendak dikirimkan. Field ini harus selalu diset, meskipun tidak ada data (payload) dalam segmen.
Ketika memulai sebuah sesi koneksi TCP, segmen dengan flag SYN (Synchronization) diset ke nilai 1, field ini akan berisi nilai Initial Sequence Number (ISN). Hal ini berarti, oktet pertama dalam aliran byte (byte stream) dalam koneksi adalah ISN+1.

Acknowledgment Number

4 byte (32 bit)

Mengindikasikan nomor urut dari oktet selanjutnya dalam aliran byte yang diharapkan oleh untuk diterima oleh pengirim dari si penerima pada pengiriman selanjutnya. Acknowledgment number sangat dipentingkan bagi segmen-segmen TCP dengan flag ACK diset ke nilai 1.

Data Offset

4 bit

Mengindikasikan di mana data dalam segmen TCP dimulai. Field ini juga dapat berarti ukuran dari header TCP. Seperti halnya field Header Length dalam header IP, field ini merupakan angka dari word 32-bit dalam header TCP. Untuk sebuah segmen TCP terkecil (di mana tidak ada opsi TCP tambahan), field ini diatur ke nilai 0×5, yang berarti data dalam segmen TCP dimulai dari oktet ke 20 dilihat dari permulaan segmen TCP. Jika field Data Offset diset ke nilai maksimumnya (24=16) yakni 15, header TCP dengan ukuran terbesar dapat memiliki panjang hingga 60 byte.

Reserved

6 bit

Direservasikan untuk digunakan pada masa depan. Pengirim segmen TCP akan mengeset bit-bit ini ke dalam nilai 0.

Flags

6 bit

Mengindikasikan flag-flag TCP yang memang ada enam jumlahnya, yang terdiri atas: URG (Urgent), ACK (Acknowledgment), PSH (Push), RST (Reset), SYN (Synchronize), dan FIN (Finish).

Window

2 byte (16 bit)

Mengindikasikan jumlah byte yang tersedia yang dimiliki oleh buffer host penerima segmen yang bersangkutan. Buffer ini disebut sebagai Receive Buffer, digunakan untuk menyimpan byte stream yang datang. Dengan mengimbuhkan ukuran window ke setiap segmen, penerima segmen TCP memberitahukan kepada pengirim segmen berapa banyak data yang dapat dikirimkan dan disangga dengan sukses. Hal ini dilakukan agar si pengirim segmen tidak mengirimkan data lebih banyak dibandingkan ukuran Receive Buffer. Jika tidak ada tempat lagi di dalam Receive buffer, nilai dari field ini adalah 0. Dengan nilai 0, maka si pengirim tidak akan dapat mengirimkan segmen lagi ke penerima hingga nilai field ini berubah (bukan 0). Tujuan hal ini adalah untuk mengatur lalu lintas data atau flow control.

Checksum

2 byte (16 bit)

Mampu melakukan pengecekan integritas segmen TCP (header-nya dan payload-nya). Nilai field Checksum akan diatur ke nilai 0 selama proses kalkulasi checksum.

Urgent Pointer

2 byte (16 bit)

Menandakan lokasi data yang dianggap “urgent” dalam segmen.

Options

4 byte (32 bit)

Berfungsi sebagai penampung beberapa opsi tambahan TCP. Setiap opsi TCP akan memakan ruangan 32 bit, sehingga ukuran header TCP dapat diindikasikan dengan menggunakan field Data offset.

Port TCP

Port TCP mampu mengindikasikan sebuah lokasi tertentu untuk menyampaikan segmen-segmen TCP yang dikirimkan yang diidentifikasi dengan TCP Port Number. Nomor-nomor di bawah angka 1024 merupakan port yang umum digunakan dan ditetapkan oleh IANA (Internet Assigned Number Authorit). Tabel berikut ini menyebutkan beberapa port TCP yang telah umum digunakan.

Nomor port TCP

Keterangan

20

File Transfer Protocol/FTP (digunakan untuk saluran data)

21

File Transfer Protocol/FTP (digunakan untuk saluran kontrol)

25

Simple Mail Transfer Protocol/SMTP yang digunakan untuk mengirim e-mail

23

Telnet

80

Hypertext Transfer Protocol/HTTP yang digunakan untuk World Wide Web.

110

Post Office Protocol 3/POP3 yang digunakan untuk menerima e-mail.

139

NetBIOS over TCP session service

Port TCP merupakan hal yang berbeda dibandingkan dengan port UDP, meskipun mereka memiliki nomor port yang sama. Port TCP merepresentasikan satu sisi dari sebuah koneksi TCP untuk protokol lapisan aplikasi, sementara port UDP merepresentasikan sebuah antrean pesan UDP untuk protokol lapisan aplikasi. Selain itu, protokol lapisan aplikasi yang menggunakan port TCP dan port UDP dalam nomor yang sama juga tidak harus sama. Sebagai contoh protokol Extended Filename Server (EFS) menggunakan port TCP dengan nomor 520, dan protokol Routing Information Protocol (RIP) menggunakan port UDP juga dengan nomor 520. Jelas, dua protokol tersebut sangatlah berbeda! Karenanya, untuk menyebutkan sebuah nomor port, sebutkan juga jenis port yang digunakannya, karena hal tersebut mampu membingungkan (ambigu).

Lihat juga Port TCP dan UDP

TCP Flag

Sebuah segmen TCP dapat memiliki flag (tanda-tanda) khusus yang mengindikasikan segmen yang bersangkutan, seperti yang disebutkan dalam tabel berikut:

Struktur flag-flag TCP

Nama flag

Keterangan

URG

Mengindikasikan bahwa beberapa bagian dari segmen TCP mengandung data yang sangat penting, dan field Urgent Pointer dalam header TCP harus digunakan untuk menentukan lokasi di mana data penting tersebut berada dalam segmen.

ACK

Mengindikasikan field Acknowledgment mengandung oktet selanjutnya yang diharapkan dalam koneksi. Flag ini selalu diset, kecuali pada segmen pertama pada pembuatan sesi koneksi TCP.

PSH

Mengindikasikan bahwa isi dari TCP Receive buffer harus diserahkan kepada protokol lapisan aplikasi. Data dalam receive buffer harus berisi sebuah blok data yang berurutan (kontigu), dilihat dari ujung paling kiri dari buffer. Dengan kata lain, sebuah segmen yang memiliki flag PSH diset ke nilai 1, tidak bolah ada satu byte pun data yang hilang dari aliran byte segmen tersebut; data tidak dapat diberikan kepada protokol lapisan aplikasi hingga segmen yang hilang tersebut datang. Normalnya, TCP Receive buffer akan dikosongkan (dengan kata lain, isi dari buffer akan diteruskan kepada protokol lapisan aplikasi) ketika buffer tersebut berisi data yang kontigu atau ketika dalam “proses perawatan”. Flag PSH ini dapat mengubah hal seperti itu, dan membuat akan TCP segera mengosongkan TCP Receive buffer. Flag PSH umumnya digunakan dalam protokol lapisan aplikasi yang bersifat interaktif, seperti halnya Telnet, karena setiap penekanan tombol dalam sesi terminal virtual akan dikirimkan dengan sebuah flag PSH diset ke nilai 1. Contoh dari penggunaan lainnya dari flag ini adalah pada segmen terakhir dari berkas yang ditransfer dengan menggunakan protokol FTP. Segmen yang dikirimkan dengan flag PSH aktif tidak harus segera di-acknowledge oleh penerima.

RST

Mengindikasikan bahwa koneksi yang dibuat akan digagalkan. Untuk sebuah koneksi TCP yang sedang berjalan (aktif), sebuah segmen dengan flag RST diset ke nilai 1 akan dikirimkan sebagai respons terhadap sebuah segmen TCP yang diterima yang ternyata segmen tersebut bukan yang diminta, sehingga koneksi pun menjadi gagal. Pengiriman segmen dengan flag RST diset ke nilai 1 untuk sebuah koneksi aktif akan menutup koneksi secara paksa, sehingga data yang disimpan dalam buffer akan dibuang (dihilangkan). Untuk sebuah koneksi TCP yang sedang dibuat, segmen dengan flag RST aktif akan dikirimkan sebagai respons terhadap request pembuatan koneksi untuk mencegah percobaan pembuatan koneksi.

SYN

Mengindikasikan bahwa segmen TCP yang bersangkutan mengandung Initial Sequence Number (ISN). Selama proses pembuatan sesi koneksi TCP, TCP akan mengirimkan sebuah segmen dengan flag SYN diset ke nilai 1. Setiap host TCP lainnya akan memberikan jawaban (acknowledgment) dari segmen dengan flag SYN tersebut dengan menganggap bahwa segmen tersebut merupakan sekumpulan byte dari data. Field Acknowledgment Number dari sebuah segmen SYN diatur ke nilai ISN + 1.

FIN

Menandakan bahwa pengirim segmen TCP telah selesai dalam mengirimkan data dalam sebuah koneksi TCP. Ketika sebuah koneksi TCP akhirnya dihentikan (akibat sudah tidak ada data yang dikirimkan lagi), setiap host TCP akan mengirimkan sebuah segmen TCP dengan flag FIN diset ke nilai 1. Sebuah host TCP tidak akan mengirimkan segmen dengan flag FIN hingga semua data yang dikirimkannya telah diterima dengan baik (menerima paket acknowledgment) oleh penerima. Setiap host akan menganggap sebuah segmen TCP dengan flag FIN sebagai sekumpulan byte dari data. Ketika dua host TCP telah mengirimkan segmen TCP dengan flag FIN dan menerima acknowledgment dari segmen tersebut, maka koneksi TCP pun akan dihentikan.

TCP Three-way handshake

Proses pembuatan koneksi (TCP Three way handshake)

Proses pembuatan koneksi TCP disebut juga dengan “Three-way Handshake“. Tujuan metode ini adalah agar dapat melakukan sinkronisasi terhadap nomor urut dan nomor acknowledgement yang dikirimkan oleh kedua pihak dan saling bertukar ukuran TCP Window. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Host pertama (yang ingin membuat koneksi) akan mengirimkan sebuah segmen TCP dengan flag SYN diaktifkan kepada host kedua (yang hendak diajak untuk berkomunikasi).
  • Host kedua akan meresponsnya dengan mengirimkan segmen dengan acknowledgmett dan juga SYN kepada host pertama.
  • Host pertama selanjutnya akan mulai saling bertukar data dengan host kedua.

TCP menggunakan proses jabat tangan yang sama untuk mengakhiri koneksi yang dibuat. Hal ini menjamin dua host yang sedang terkoneksi tersebut telah menyelesaikan proses transmisi data dan semua data yang ditransmisikan telah diterima dengan baik. Itulah sebabnya, mengapa TCP disebut dengan koneksi yang reliable.

Persamaan Model OSI dan TCP/IP :

1) Keduanya memiliki layer (lapisan).

2) Sama – sama memiliki Application layer meskipun memiliki layanan yang berbeda.

3) Memiliki transport dan network layer yang sama.

4) Asumsi dasar keduanya adalah menggunakan teknologi packet switching.

5) Dua-duanya punya transport dan network layer yang bisa diperbandingkan.

6) Dua-duanya menggunakan teknologi packet-switching, bukan circuit-switching ( Teknologi Circuit-Switching digunakan pada analog telephone).

Perbedaan Model OSI dan TCP/IP :

1) TCP/IP menggabungkan presentation dan session layers kedalam application layers.

2) TCP/IP menggabungkan OSI-data link dan physical layers kedalam network access layer.

3) TCP/IP Protocol adalah standar dalam pengembangan internet.

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Sistem berlapis pada komunikasi dibuat agar  komputer dapat berkomunikasi pada jaringan yang berbeda secara efisien, misalnya pada OSI Layer

Sebelum munculnya model referensi OSI, sistem jaringan komputer sangat tergantung kepada pemasok (vendor). OSI berupaya membentuk standar umum jaringan komputer untuk menunjang interoperatibilitas antar pemasok yang berbeda. Dalam suatu jaringan yang besar biasanya terdapat banyak protokol jaringan yang berbeda. Tidak adanya suatu protokol yang sama, membuat banyak perangkat tidak bisa saling berkomunikasi.

OSI Reference Model pun akhirnya dilihat sebagai sebuah model ideal dari koneksi logis yang harus terjadi agar komunikasi data dalam jaringan dapat berlangsung. Beberapa protokol yang digunakan dalam dunia nyata, semacam TCP/IP, DECnet dan IBM Systems Network Architecture (SNA) memetakan tumpukan protokol (protocol stack ) mereka ke OSI Reference Model. OSI Reference Model pun digunakan sebagai titik awal untuk mempelajari bagaimana beberapa protokol jaringan di dalam sebuah kumpulan protokol dapat berfungsi dan berinteraksi dengan baik.

Pembahasan OSI Layer dengan TCP/IP Layer dan Perbandingannya.

Model dibagi menjadi 7 layer, dengan karakteristik dan fungsinya masing-masing. Tiap layer harus dapat berkomunikasi dengan layer di atasnya maupun dibawahnya secara langsung melalui serentetan protokol dan standard.

Model OSI Keterangan

Ketika data ditransfer melalui jaringan, sebelumnya data tersebut harus melewati ke-tujuh layer dari satu terminal, mulai dari layer aplikasi sampai physical layer, kemudian di sisi penerima, data tersebut melewati layer physical sampai aplikasi. Pada saat data melewati satu layer dari sisi pengirim, maka akan ditambahkan satu “header” sedangkan pada sisi penerima “header” dicopot sesuai dengan layernya.

Model OSI

Tujuan utama penggunaan model OSI adalah untuk membantu desainer jaringan memahami fungsi dari tiap-tiap layer yang berhubungan dengan aliran komunikasi data. Termasuk jenis-jenis protoklol jaringan dan metode transmisi.

Adapun fungsi dari tiap layer yaitu :

Application Layer: Menyediakan jasa untuk aplikasi pengguna. Layer ini bertanggungjawab atas pertukaran informasi antara program komputer, seperti program e-mail, dan service lain yang jalan di jaringan, seperti server printer atau aplikasi komputer lainnya.

Presentation Layer atau Lapisan presentasi: adalah lapisan keenam dari bawah dalam model referensi jaringan terbuka OSI. Pada lapisan ini terjadi pembuatan struktur data yang didapatnya dari lapisan aplikasi ke sebuah format yang dapat ditransmisikan melalui jaringan.

Lapisan ini juga bertanggungjawab untuk melakukan enkripsi data, kompresi data, konversi set karakter (ASCII, Unicode, EBCDIC, atau set karakter lainnya), interpretasi perintah-perintah grafis, dan beberapa lainnya. Dalam arsitektur TCP/IP yang menggunakan model DARPA, tidak terdapat protokol lapisan ini secara khusus.

Session Layer atau Lapisan sesi adalah lapisan kelima dari bawah dalam model referensi jaringan OSI, yang mengizinkan sesi koneksi antara node dalam sebuah jaringan dibuat atau dihancurkan. Lapisan sesi tidak tahu menahu mengenai efisiensi dan keandalan dalam transfer data antara node-node tersebut, karena fungsi-fungsi tersebut disediakan oleh empat lapisan di bawahnya dari dalam model OSI (lapisan fisik, lapisan data-link, lapisan jaringan dan lapisan transport).

Lapisan sesi bertanggung jawab untuk melakukan sinkronisasi antara pertukaran data antar komputer, membuat struktur sesi komunikasi, dan beberapa masalah yang berkaitan secara langsung dengan percakapan antara node-node yang saling terhubung di dalam jaringan. Lapisan ini juga bertanggung jawab untuk melakukan fungsi pengenalan nama pada tingkat nama jaringan logis dan juga menetapkan [[[port TCP|port-port komunikasi]]. Sebagai contoh, protokol NetBIOS dapat dianggap sebagai sebuah protokol yang berjalan pada lapisan ini.

Lapisan sesi dari model OSI tidak banyak diimplementasikan di dalam beberapa protokol jaringan populer, seperti halnya TCP/IP atau IPX/SPX. Akan tetapi, tiga lapisan tertinggi di dalam model OSI (lapisan sesi, lapisan presentasi, dan lapisan aplikasi) seringnya disebut sebagai sebuah kumpulan yang homogen, sebagai sebuah lapisan aplikasi saja.

Transport Layer atau Lapisan transpor adalah lapisan keempat dari model referensi jaringan OSI.

Lapisan transpor bertanggung jawab untuk menyediakan layanan-layanan yang dapat diandalkan kepada protokol-protokol yang terletak di atasnya. Layanan yang dimaksud antara lain:

  • Mengatur alur (flow control) untuk menjamin bahwa perangkat yang mentransmisikan data tidak mengirimkan lebih banyak data daripada yang dapat ditangani oleh perangkat yang menerimanya.
  • Mengurutkan paket (packet sequencing), yang dilakukan untuk mengubah data yang hendak dikirimkan menjadi segmen-segmen data (proses ini disebut dengan proses segmentasi/segmentation), dan tentunya memiliki fitur untuk menyusunnya kembali.
  • Penanganan kesalahan dan fitur acknowledgmet untuk menjamin bahwa data telah dikirimkan dengan benar dan akan dikirimkan lagi ketika memang data tidak sampai ke tujuan.
  • Multiplexing, yang dapat digunakan untuk menggabungkan data dari bebeberapa sumber untuk mengirimkannya melalui satu jalur data saja.
  • Pembentukan sirkuit virtual, yang dilakukan dalam rangka membuat sesi koneksi antara dua node yang hendak berkomunikasi.

Contoh dari protokol yang bekerja pada lapisan transport adalah Transmission Control Protocol (TCP) dan User Datagram Protocol (UDP) yang tersedia dari kumpulan protokol TCP/IP.

Lapisan jaringan atau Network layer adalah lapisan ketiga dari bawah dalam model referensi jaringan OSI. Lapisan ini bertanggung jawab untuk melakukan beberapa fungsi berikut:

  • Pengalamatan logis dan melakukan pemetaan (routing) terhadap paket-paket melalui jaringan.
  • Membuat dan menghapus koneksi dan jalur koneksi antara dua node di dalam sebuah jaringan.
  • Mentransfer data, membuat dan mengkonfirmasi penerimaan, dan mengeset ulang koneksi.

Lapisan jaringan juga menyediakan layanan connectionless dan connection-oriented terhadap lapisan transport yang berada di atasnya. Lapisan jaringan juga melakukan fungsinya secara erat dengan lapisan fisik (lapisan pertama) dan lapisan data-link (lapisan kedua) dalam banyak implementasi protokol dunia nyata.

Dalam jaringan berbasis TCP/IP, alamat IP digunakan di dalam lapisan ini. Router IP juga melakukan fungsi routing-nya di dalam lapisan ini.

Data Link Layer: Menyediakan link untuk data, memaketkannya menjadi frame yang berhubungan dengan “hardware” kemudian diangkut melalui media. komunikasinya dengan kartu jaringan, mengatur komunikasi layer physical antara sistem koneksi dan penanganan error.

Physical Layer: Bertanggung jawab atas proses data menjadi bit dan mentransfernya melalui media, seperti kabel, dan menjaga koneksi fisik antar sistem.

Transmission Control Protocol

Transmission Control Protocol (TCP) adalah suatu protocol yang berada di lapisan transport  (baik itu dalam tujuh lapis model referensi OSI atau model DARPA ) yang berorientasi sambungan (connection-oriented) dan dapat diandalkan (reliable). TCP dispesifikasikan dalam RFC 793

Karakteristik TCP

TCP memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Berorientasi sambungan (connection-oriented): Sebelum data dapat ditransmisikan antara dua host, dua proses yang berjalan pada lapisan aplikasi harus melakukan negosiasi untuk membuat sesi koneksi terlebih dahulu. Koneksi TCP ditutup dengan menggunakan proses terminasi koneksi TCP (TCP connection termination).
  • Full-duplex: Untuk setiap host TCP, koneksi yang terjadi antara dua host terdiri atas dua buah jalur, yakni jalur keluar dan jalur masuk. Dengan menggunakan teknologi lapisan yang lebih rendah yang mendukung full-duplex, maka data pun dapat secara simultan diterima dan dikirim. Header TCP berisi nomor urut (TCP sequence number) dari data yang ditransmisikan dan sebuah acknowledgment dari data yang masuk.
  • Dapat diandalkan (reliable): Data yang dikirimkan ke sebuah koneksi TCP akan diurutkan dengan sebuah nomor urut paket dan akan mengharapkan paket positive acknowledgment dari penerima. Jika tidak ada paket Acknowledgment dari penerima, maka segmen TCP (protocol data unit dalam protokol TCP) akan ditransmisikan ulang. Pada pihak penerima, segmen-segmen duplikat akan diabaikan dan segmen-segmen yang datang tidak sesuai dengan urutannya akan diletakkan di belakang untuk mengurutkan segmen-segmen TCP. Untuk menjamin integritas setiap segmen TCP, TCP mengimplementasikan penghitungan TCP Checksum.
  • Byte stream: TCP melihat data yang dikirimkan dan diterima melalui dua jalur masuk dan jalur keluar TCP sebagai sebuah byte stream yang berdekatan (kontigu). Nomor urut TCP dan nomor acknowlegment dalam setiap header TCP didefinisikan juga dalam bentuk byte. Meski demikian, TCP tidak mengetahui batasan pesan-pesan di dalam byte stream TCP tersebut. Untuk melakukannya, hal ini diserahkan kepada protokol lapisan aplikasi (dalam DARPA Reference Model), yang harus menerjemahkan byte stream TCP ke dalam “bahasa” yang ia pahami.
  • Memiliki layanan flow control: Untuk mencegah data terlalu banyak dikirimkan pada satu waktu, yang akhirnya membuat “macet” jaringan internetwork IP, TCP mengimplementasikan layanan flow control yang dimiliki oleh pihak pengirim yang secara terus menerus memantau dan membatasi jumlah data yang dikirimkan pada satu waktu. Untuk mencegah pihak penerima untuk memperoleh data yang tidak dapat disangganya (buffer), TCP juga mengimplementasikan flow control dalam pihak penerima, yang mengindikasikan jumlah buffer yang masih tersedia dalam pihak penerima.
  • Melakukan segmentasi terhadap data yang datang dari lapisan aplikasi (dalam DARPA Reference Model)
  • Mengirimkan paket secara “one-to-one“: hal ini karena memang TCP harus membuat sebuah sirkuit logis antara dua buah protokol lapisan aplikasi agar saling dapat berkomunikasi. TCP tidak menyediakan layanan pengiriman data secara one-to-many.

TCP umumnya digunakan ketika protokol lapisan aplikasi membutuhkan layanan transfer data yang bersifat andal, yang layanan tersebut tidak dimiliki oleh protokol lapisan aplikasi tersebut. Contoh dari protokol yang menggunakan TCP adalah HTTP dan FTP.

Segmen TCP

Segmen-segmen TCP akan dikirimkan sebagai datagram-datagram IP (datagram merupakan satuan protocol data unit pada lapisan internetwork). Sebuah segmen TCP terdiri atas sebuah header dan segmen data (payload), yang dienkapsulasi dengan menggunakan header IP dari protokol IP.

Proses enkapsulasi data protokol TCP/IP: Data aplikasi + header TCP + header IP + header network interface (Ethernet, Token Ring, dll) + trailer network interface

Sebuah segmen dapat berukuran hingga 65495 byte: 216-(ukuran header IP terkecil (20 byte)+ukuran header TCP terkecil (20 byte)). Datagram IP tersebut akan dienkapsulasi lagi dengan menggunakan header protokol network interface (lapisan pertama dalam DARPA Reference Model) menjadi frame lapisan Network Interface. Gambar berikut mengilustrasikan data yang dikirimkan ke sebuah host.

Di dalam header IP dari sebuah segmen TCP, field Source IP Address diatur menjadi alamat unicast dari sebuah antarmuka host yang mengirimkan segmen TCP yang bersangkutan. Sementara itu, field Destination IP Address juga akan diatur menjadi alamat unicast dari sebuah antarmuka host tertentu yang dituju. Hal ini dikarenakan, protokol TCP hanya mendukung transmisi one-to-one.

Header TCP

Ukuran dari header TCP adalah bervariasi, yang terdiri atas beberapa field yang ditunjukkan dalam gambar dan tabel berikut. Ukuran TCP header paling kecil (ketika tidak ada tambahan opsi TCP) adalah 20 byte.

Format header TCP, dilengkapi dengan ukuran setiap field-nya

Nama field

Ukuran

Keterangan

Source Port

2 byte (16 bit)

Mengindikasikan sumber protokol lapisan aplikasi yang mengirimkan segmen TCP yang bersangkutan. Gabungan antara field Source IP Address dalam header IP dan field Source Port dalam field header TCP disebut juga sebagai socket sumber, yang berarti sebuah alamat global dari mana segmen dikirimkan. Lihat juga Port TCP.

Destination Port

2 byte (16 bit)

Mengindikasikan tujuan protokol lapisan aplikasi yang menerima segmen TCP yang bersangkutan. Gabungan antara field Destination IP Address dalam header IP dan field Destination Port dalam field header TCP disebut juga sebagai socket tujuan, yang berarti sebuah alamat global ke mana segmen akan dikirimkan.

Sequence Number

4 byte (32 bit)

Mengindikasikan nomor urut dari oktet pertama dari data di dalam sebuah segmen TCP yang hendak dikirimkan. Field ini harus selalu diset, meskipun tidak ada data (payload) dalam segmen.
Ketika memulai sebuah sesi koneksi TCP, segmen dengan flag SYN (Synchronization) diset ke nilai 1, field ini akan berisi nilai Initial Sequence Number (ISN). Hal ini berarti, oktet pertama dalam aliran byte (byte stream) dalam koneksi adalah ISN+1.

Acknowledgment Number

4 byte (32 bit)

Mengindikasikan nomor urut dari oktet selanjutnya dalam aliran byte yang diharapkan oleh untuk diterima oleh pengirim dari si penerima pada pengiriman selanjutnya. Acknowledgment number sangat dipentingkan bagi segmen-segmen TCP dengan flag ACK diset ke nilai 1.

Data Offset

4 bit

Mengindikasikan di mana data dalam segmen TCP dimulai. Field ini juga dapat berarti ukuran dari header TCP. Seperti halnya field Header Length dalam header IP, field ini merupakan angka dari word 32-bit dalam header TCP. Untuk sebuah segmen TCP terkecil (di mana tidak ada opsi TCP tambahan), field ini diatur ke nilai 0×5, yang berarti data dalam segmen TCP dimulai dari oktet ke 20 dilihat dari permulaan segmen TCP. Jika field Data Offset diset ke nilai maksimumnya (24=16) yakni 15, header TCP dengan ukuran terbesar dapat memiliki panjang hingga 60 byte.

Reserved

6 bit

Direservasikan untuk digunakan pada masa depan. Pengirim segmen TCP akan mengeset bit-bit ini ke dalam nilai 0.

Flags

6 bit

Mengindikasikan flag-flag TCP yang memang ada enam jumlahnya, yang terdiri atas: URG (Urgent), ACK (Acknowledgment), PSH (Push), RST (Reset), SYN (Synchronize), dan FIN (Finish).

Window

2 byte (16 bit)

Mengindikasikan jumlah byte yang tersedia yang dimiliki oleh buffer host penerima segmen yang bersangkutan. Buffer ini disebut sebagai Receive Buffer, digunakan untuk menyimpan byte stream yang datang. Dengan mengimbuhkan ukuran window ke setiap segmen, penerima segmen TCP memberitahukan kepada pengirim segmen berapa banyak data yang dapat dikirimkan dan disangga dengan sukses. Hal ini dilakukan agar si pengirim segmen tidak mengirimkan data lebih banyak dibandingkan ukuran Receive Buffer. Jika tidak ada tempat lagi di dalam Receive buffer, nilai dari field ini adalah 0. Dengan nilai 0, maka si pengirim tidak akan dapat mengirimkan segmen lagi ke penerima hingga nilai field ini berubah (bukan 0). Tujuan hal ini adalah untuk mengatur lalu lintas data atau flow control.

Checksum

2 byte (16 bit)

Mampu melakukan pengecekan integritas segmen TCP (header-nya dan payload-nya). Nilai field Checksum akan diatur ke nilai 0 selama proses kalkulasi checksum.

Urgent Pointer

2 byte (16 bit)

Menandakan lokasi data yang dianggap “urgent” dalam segmen.

Options

4 byte (32 bit)

Berfungsi sebagai penampung beberapa opsi tambahan TCP. Setiap opsi TCP akan memakan ruangan 32 bit, sehingga ukuran header TCP dapat diindikasikan dengan menggunakan field Data offset.

Port TCP

Port TCP mampu mengindikasikan sebuah lokasi tertentu untuk menyampaikan segmen-segmen TCP yang dikirimkan yang diidentifikasi dengan TCP Port Number. Nomor-nomor di bawah angka 1024 merupakan port yang umum digunakan dan ditetapkan oleh IANA (Internet Assigned Number Authorit). Tabel berikut ini menyebutkan beberapa port TCP yang telah umum digunakan.

Nomor port TCP

Keterangan

20

File Transfer Protocol/FTP (digunakan untuk saluran data)

21

File Transfer Protocol/FTP (digunakan untuk saluran kontrol)

25

Simple Mail Transfer Protocol/SMTP yang digunakan untuk mengirim e-mail

23

Telnet

80

Hypertext Transfer Protocol/HTTP yang digunakan untuk World Wide Web.

110

Post Office Protocol 3/POP3 yang digunakan untuk menerima e-mail.

139

NetBIOS over TCP session service

Port TCP merupakan hal yang berbeda dibandingkan dengan port UDP, meskipun mereka memiliki nomor port yang sama. Port TCP merepresentasikan satu sisi dari sebuah koneksi TCP untuk protokol lapisan aplikasi, sementara port UDP merepresentasikan sebuah antrean pesan UDP untuk protokol lapisan aplikasi. Selain itu, protokol lapisan aplikasi yang menggunakan port TCP dan port UDP dalam nomor yang sama juga tidak harus sama. Sebagai contoh protokol Extended Filename Server (EFS) menggunakan port TCP dengan nomor 520, dan protokol Routing Information Protocol (RIP) menggunakan port UDP juga dengan nomor 520. Jelas, dua protokol tersebut sangatlah berbeda! Karenanya, untuk menyebutkan sebuah nomor port, sebutkan juga jenis port yang digunakannya, karena hal tersebut mampu membingungkan (ambigu).

Lihat juga Port TCP dan UDP

TCP Flag

Sebuah segmen TCP dapat memiliki flag (tanda-tanda) khusus yang mengindikasikan segmen yang bersangkutan, seperti yang disebutkan dalam tabel berikut:

Struktur flag-flag TCP

Nama flag

Keterangan

URG

Mengindikasikan bahwa beberapa bagian dari segmen TCP mengandung data yang sangat penting, dan field Urgent Pointer dalam header TCP harus digunakan untuk menentukan lokasi di mana data penting tersebut berada dalam segmen.

ACK

Mengindikasikan field Acknowledgment mengandung oktet selanjutnya yang diharapkan dalam koneksi. Flag ini selalu diset, kecuali pada segmen pertama pada pembuatan sesi koneksi TCP.

PSH

Mengindikasikan bahwa isi dari TCP Receive buffer harus diserahkan kepada protokol lapisan aplikasi. Data dalam receive buffer harus berisi sebuah blok data yang berurutan (kontigu), dilihat dari ujung paling kiri dari buffer. Dengan kata lain, sebuah segmen yang memiliki flag PSH diset ke nilai 1, tidak bolah ada satu byte pun data yang hilang dari aliran byte segmen tersebut; data tidak dapat diberikan kepada protokol lapisan aplikasi hingga segmen yang hilang tersebut datang. Normalnya, TCP Receive buffer akan dikosongkan (dengan kata lain, isi dari buffer akan diteruskan kepada protokol lapisan aplikasi) ketika buffer tersebut berisi data yang kontigu atau ketika dalam “proses perawatan”. Flag PSH ini dapat mengubah hal seperti itu, dan membuat akan TCP segera mengosongkan TCP Receive buffer. Flag PSH umumnya digunakan dalam protokol lapisan aplikasi yang bersifat interaktif, seperti halnya Telnet, karena setiap penekanan tombol dalam sesi terminal virtual akan dikirimkan dengan sebuah flag PSH diset ke nilai 1. Contoh dari penggunaan lainnya dari flag ini adalah pada segmen terakhir dari berkas yang ditransfer dengan menggunakan protokol FTP. Segmen yang dikirimkan dengan flag PSH aktif tidak harus segera di-acknowledge oleh penerima.

RST

Mengindikasikan bahwa koneksi yang dibuat akan digagalkan. Untuk sebuah koneksi TCP yang sedang berjalan (aktif), sebuah segmen dengan flag RST diset ke nilai 1 akan dikirimkan sebagai respons terhadap sebuah segmen TCP yang diterima yang ternyata segmen tersebut bukan yang diminta, sehingga koneksi pun menjadi gagal. Pengiriman segmen dengan flag RST diset ke nilai 1 untuk sebuah koneksi aktif akan menutup koneksi secara paksa, sehingga data yang disimpan dalam buffer akan dibuang (dihilangkan). Untuk sebuah koneksi TCP yang sedang dibuat, segmen dengan flag RST aktif akan dikirimkan sebagai respons terhadap request pembuatan koneksi untuk mencegah percobaan pembuatan koneksi.

SYN

Mengindikasikan bahwa segmen TCP yang bersangkutan mengandung Initial Sequence Number (ISN). Selama proses pembuatan sesi koneksi TCP, TCP akan mengirimkan sebuah segmen dengan flag SYN diset ke nilai 1. Setiap host TCP lainnya akan memberikan jawaban (acknowledgment) dari segmen dengan flag SYN tersebut dengan menganggap bahwa segmen tersebut merupakan sekumpulan byte dari data. Field Acknowledgment Number dari sebuah segmen SYN diatur ke nilai ISN + 1.

FIN

Menandakan bahwa pengirim segmen TCP telah selesai dalam mengirimkan data dalam sebuah koneksi TCP. Ketika sebuah koneksi TCP akhirnya dihentikan (akibat sudah tidak ada data yang dikirimkan lagi), setiap host TCP akan mengirimkan sebuah segmen TCP dengan flag FIN diset ke nilai 1. Sebuah host TCP tidak akan mengirimkan segmen dengan flag FIN hingga semua data yang dikirimkannya telah diterima dengan baik (menerima paket acknowledgment) oleh penerima. Setiap host akan menganggap sebuah segmen TCP dengan flag FIN sebagai sekumpulan byte dari data. Ketika dua host TCP telah mengirimkan segmen TCP dengan flag FIN dan menerima acknowledgment dari segmen tersebut, maka koneksi TCP pun akan dihentikan.

TCP Three-way handshake

Proses pembuatan koneksi (TCP Three way handshake)

Proses pembuatan koneksi TCP disebut juga dengan “Three-way Handshake“. Tujuan metode ini adalah agar dapat melakukan sinkronisasi terhadap nomor urut dan nomor acknowledgement yang dikirimkan oleh kedua pihak dan saling bertukar ukuran TCP Window. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Host pertama (yang ingin membuat koneksi) akan mengirimkan sebuah segmen TCP dengan flag SYN diaktifkan kepada host kedua (yang hendak diajak untuk berkomunikasi).
  • Host kedua akan meresponsnya dengan mengirimkan segmen dengan acknowledgmett dan juga SYN kepada host pertama.
  • Host pertama selanjutnya akan mulai saling bertukar data dengan host kedua.

TCP menggunakan proses jabat tangan yang sama untuk mengakhiri koneksi yang dibuat. Hal ini menjamin dua host yang sedang terkoneksi tersebut telah menyelesaikan proses transmisi data dan semua data yang ditransmisikan telah diterima dengan baik. Itulah sebabnya, mengapa TCP disebut dengan koneksi yang reliable.

Persamaan Model OSI dan TCP/IP :

1) Keduanya memiliki layer (lapisan).

2) Sama – sama memiliki Application layer meskipun memiliki layanan yang berbeda.

3) Memiliki transport dan network layer yang sama.

4) Asumsi dasar keduanya adalah menggunakan teknologi packet switching.

5) Dua-duanya punya transport dan network layer yang bisa diperbandingkan.

6) Dua-duanya menggunakan teknologi packet-switching, bukan circuit-switching ( Teknologi Circuit-Switching digunakan pada analog telephone).

Perbedaan Model OSI dan TCP/IP :

1) TCP/IP menggabungkan presentation dan session layers kedalam application layers.

2) TCP/IP menggabungkan OSI-data link dan physical layers kedalam network access layer.

3) TCP/IP Protocol adalah standar dalam pengembangan internet.

Komentar bertahan »

Membuat PC Router Sederhana menggunakan Coyote

Pada mulanya saya hanya coba-coba dan mencari tau bagaimana cara membuat PC router yang sederhana, murah dan mudah. Trial Error.

Pada mulanya saya penasaran dengan Proxy dengan OS-IPCOP. Karena OS ini juga sangat bagus untuk Proxy, Firewall. Tapi kali ini saya akan menjelaskan bagaimana cara membuat PC router dengan menggunakan OS Coyote. OS ini juga termasuk family dengan Linux.

Disini saya akan sedikit bercerita mengenai Coyote yang saya tau.

Coyote!!! Knapa harus dinamakan Coyote!! Saya juga kurang tau hehe….

Yang saya tau Coyote itu dibuat untuk keperluan reouter/Firewall yang hanya memakian Flopy tanpa menggunakan Harddisk sebagai media penginstallan.

”Waah… OS Linux yang satu ini Kecil bukan!!”

Coyote ini dikembangkan oleh Vortech Consulting untuk menyediakan koneksi Internet sharing, keamanan, dan kinerja tuning. Anda dapat menemukan informasi lebih lanjut di situs Coyote. http://coyotelinux.com/

Baiklah kita mulai saja dengan pembahasan :

Cara membuat PC Router dengan menggunakan Coyote

Sebelum memulai kita harus menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan dalam pembuatannya, diantaranya adalah sbb :

  1. Seperangkat komputer Minimal Proccessor  P2 max terserah
  2. RAM min 64 MB Max terserah
  3. Flopy Disk
  4. Disket
  5. Coyote Linux
  6. Lan Card 2 Unit
  7. Kopi Hangat dan kacang garuda + Gorengan Pisang yang masih Hangat.

Jika semua sudah siap, jangan lupa baca Basmallah….

Pertama lakukan penginstallan Coyote linux dengan OS windows, kalau saya pake windows.xp paketnya dapat anda download di situs coyotelinux.com.

Setelah berhasil anda download, lakukan extract file  kalo saya masih pake yang versi 2.24.0 dengan nama file wizard-2.24.0.zip.

Setelah file di extract lakukan penginstallan dengan cara cari file Install : “coyote.exe”

dengan gambar serigala tapi mirip tikus hehe.Coyote. kemudian Next

2Atur IP Address yang dibutuhkan beserta netmasknya

3isi admin password sesuai yang anda inginkan

4isi remot login jika dibutuhkan

5plilih type Connection Internet sesuai yang anda pakai

6Ceklist DHCP Server jika dibutuhkan

7pilih lan card sesuai dengan hardware yang digunakan >> kalo saya Pake 3com

8Pilih bahasa yang digunakan >> kalo saya pakenya English saja

9lalu masukan Disket kedalam Flopy…. lalu pilih Create Disk

biarkan proses Create berjalan sampai proses Complete dan keluarkan disket tersebut.

Jika sudah selesai, masukan disket tersebut pada Flopy di PC yang sudah disiapkan sebelumnya lalu nyalakan PC tersebut dan biarkan Coyote Linux mendeteksi semua hardware yang dibutuhkan.

Cek Lan card, IP Address, dan DNS apakah semua sudah terinstall!!

jiga sudah cek koneksi internet dengan cara ping ke situs internet.

jika berhasil, maka PC reouter siap di operasikan.

Selesai…. :)

mudah bukan …..

semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan…..

Komentar bertahan »

Menghapus File yang Bandel pada Antrian Printer

  1. Pada taksbar, klik Start lalu klik Run
  2. Ketik perintah berikut: net stop spooler (lalu tekan enter)
  3. Hapus semua file pada folder berikut: C:\Windows\System32\Spool\Printers\
  4. Setelah semua file dihapus, aktifkan spooler dengan mengetik perintah: net start spooler

Cara lain untuk langkah 2 & 4 adalah melalui: Start > Settings > Control Panel > Administrative Tools > Services, klik kanan pada Print Spooler lalu pilih Stop. Untuk memulai klik Start.

OS komputer tersebut adalah Windows XP Pro dan printer yang digunakan adalah keluaran HP.

Komentar bertahan »